GLS KELAS : VIII-C

TAHUN PELAJARAN 2025/2026
AKHYARI RABBANI NAFSANZANI
Kelas : VIII-C

AKHYARI RABBANI NAFSANZANI
Kelas : VIII-C

Senin, 9 Februari 2026 | Dibaca : 27 kali
Judul Buku: Kancil dan beruang
Genre: Fiksi
Penulis: Blang pidie
Penerbit: Teungku Mustafa kamal
Tahun:
Halaman: 28
GLS
Resume:
Cerita fabel dari Blang Pidie, Kabupaten Aceh 
Barat Daya ini dituturkan Teungku Mustafa Kamal 
kepada Helmizhar S. Syahputra, seniman dari 
Aceh Barat.
Alkisah, di sebuah hutan berlangsung kehi-
dupan yang tenteram, damai, dan semua 
kebutuhan hewan-hewan terpenuhi. Karena
itu, hewan-hewan tidak perlu merasa khawatir
untuk mencari makan demi mengisi ruang kosong 
di perutnya.
Suatu hari, hutan tersebut tiba-tiba kedatangan
tamu yang tak pernah diharapkan. Kedatangan-
nya membuat penghuni hutan serta merta merasa 
ketakutan. Hutan yang mulanya diramaikan oleh 
riuh suara hewan-hewan yang sedang mencari
makan, kini menjadi sunyi mencekam. Tak ada 3
yang berani keluar dari sarangnya meskipun 
mereka merasa kelaparan.
Jauh dari hutan tersebut, hidup seekor Kancil 
yang sudah lama tidak mendatangi hutan itu. Tiba
tiba terbersit keinginan Kancil untuk mengunjungi 
hutan tersebut dan sekaligus ingin bertemu 
teman-temannya atau sekadar menghirup udara
di hutan yang damai itu. 
Tanpa mengetahui situasi yang tengah terjadi, 
Kancil terus melangkah santai memasuki hutan. 
Ia tidak menyadari bahwa hutan tersebut tengah 
dalam situasi mencekam. Setelah berjalan lebih 
jauh ke tengah hutan, Kancil tiba-tiba meng-
hentikan langkahnya. Ia mengamati situasi hutan
yang sunyi. Tiba-tiba muncul rasa curiga dan
penasaran dalam dirinya.
“Mengapa hutan ini sepi sekali? Suasananya 
pun seperti mencekam,” tanya Kancil dalam hati.
Tiba-tiba Kancil mendengar suara seruan
peringatan dari Burung Balam yang gerakannya 
begitu cepat dan mengisyaratkan untuk waspada.
“Hei, Kancil! Segeralah bersembunyi sebelum 
kau dimangsanya! Karena hutan ini sudah tidak 
aman lagi! Anak-anak kami banyak yang mati
dimakannya. Sungai-sungai pun menjadi keruh
dibuatnya,” teriak Burung Balam mengabarkan 
dan sekaligus mengingatkan Kancil. 4
“Dia tinggal di mana rupanya?” tanya Kancil 
dengan penuh penasaran.
“Aku tidak tahu dia tinggal di mana. Tapi yang 
pasti, dia akan keluar tiba-tiba dan memangsa
setiap hewan yang berjumpa dengannya,” jawab 
Burung Balam dan membuat nyali Kancil tiba-tiba
menciut.
Tidak hanya Burung Balam yang berkata 
seperti itu kepada Kancil. Hewan-hewan lain
yang kebetulan mendengar percakapan antara 
Burung Balam dengan Kancil, juga membenarkan 
peringatan yang disampaikan Burung Balam 
tersebut. 
Tiba-tiba terdengar suara auman yang meng-
getarkan nyali Burung Balam dan Kancil. Dengan
tergesa-gesa karena rasa takutnya, Kancil berusaha
lari untuk mencari tempat persembunyian. 
Namun sebelum Kancil berlari, ternyata binatang 
tersebut telah berdiri di hadapannya. Badannya 
yang besar dan cakarnya yang tajam membuat 
hewan-hewan kecil takut padanya
Kancil tetap berusaha melarikan diri dari 
hewan tersebut. Namun gerakan hewan itu rupa
rupanya lebih cepat dari pada Kancil. Tanpa 
disadari Kancil, hewan tersebut ternyata kembali 
sudah berada di hadapannya. Namun Kancil tidak 
melihat keberadaan hewan itu. Ia terus berlari 5
sehingga menabrak hewan itu dan membuat 
Kancil jatuh ke dalam lumpur. Walaupun kon-
disinya sudah dalam keadaan terancam, namun 
Kancil tidak mau menyerah begitu saja ataupun 
putus asa. Ia berusaha menggunakan akalnya 
supaya bisa terlepas dari situasi yang sedang 
mengancamnya. Ketika hewan tersebut bersiap
siap untuk memangsanya, Kancil tiba-tiba
berkata, “Stop! Jangan kau makan mangsamu 
dalam keadaan seperti ini. Nanti rasanya tidak 
akan nikmat seperti yang kau bayangkan,” ucap 
Kancil mulai memainkan akalnya.
“Kalau begitu, aku harus bagaimana?” Tanya 
hewan buas itu.
“Di sekitar sini ada sungai. Izinkan aku mem-
bersihkan diri. Dan setelah itu, kau boleh menyan-
tapku,” jawab Kancil memohon.
“Baiklah,” balas hewan buas tersebut.
Kancil kemudian berjalan menuju sungai. 
Hewan pemangsa itu mengikuti dan mengawasi 
Kancil dari belakang. Sambil berjalan santai 
menuju sungai, Kancil menyempatkan diri ber-
tanya pada hewan itu.
“Apakah kau hewan yang bernama beruang?”
“Iya. Akulah beruang! Aku adalah raja hutan. 
Semua hewan takut padaku,” ucap Beruang mem-
banggakan diri sambil tertawa. 7
“Jika kau bernama Beruang, tentulah kau lebih 
suka madu dari pada aku yang kelezatannya 
masih diragukan ini,” Kancil mencoba mengelabui 
Beruang.
“Ya! Jelas aku lebih suka madu. Tapi di hutan ini 
belum kutemui madu itu. Makanya aku menyantap 
hewan-hewan kecil,” ungkap Beruang
“Aku tahu tempat yang menyimpan madu lezat. 
Jika kau berkenan aku akan mengantarkanmu 
pada madu tersebut. Tapi aku mengantarkanmu 
setelah aku membersihkan tubuhku dulu,” Kancil 
menawarkan diri sambil terus mengolah akalnya.
Beruang yang tidak menyadari siasat yang 
sedang dimainkan Kancil, spontan memenuhi 
tawaran yang diajukan Kancil. Tiada sedikit 
pun terpikir oleh Beruang tentang bahaya yang 
akan mengancamnya karena memenuhi tawaran 
Kancil tersebut. 
Sesampai di sungai, Kancil langsung member-
sihkan tubuhnya. Selanjutnya, ia melanjutkan 
perjalanan menuju gua yang ada madunya. Begitu 
sampai di mulut gua, Kancil berkata, “Gua ini 
sangat gelap, tapi di dasar gua ada madu yang 
sangat lezat yang tak pernah diambil siapa pun,” 
Kancil menjelaskan sambil menunjuk ke arah 
dalam gua. 8
“Tidak apa. Kita akan ke sana,” ucap Beruang 
bersemangat.
Setelah berjalan ke dalam gua tersebut, Kancil 
memberitahu beruang, “Hei, Beruang, dengarlah 
suara lebah itu. Kita sudah dekat dengan madu-
nya. Tapi kita kesulitan melihat di mana letak 
madu itu. Jadi, tunggulah di sini. Aku akan keluar 
mengambil api dan akan segera kembali,” jelas 
Kancil. Beruang membalas dengan anggukan. Ia 
sedang dikuasai rasa senang yang luar biasa karena 
keinginannya segera terwujud untuk merasakan 
madu yang selama ini diimpi-impikannya.
“Jangan lama-lama ya,” Beruang mengingatkan
Kancil. Beruang sudah tak sabaran ingin menik-
mati lezatnya madu. 
Kancil segera keluar dari gua untuk mengambil 
api. Namun di luar dugaan Beruang, Kancil yang 
tadinya berjanji akan membawa api ke dalam 
gua, tapi malah menyulutkan api di mulut gua. 
Akibatnya, mulut gua tertutup seketika dan Be-
ruang terjebak di dalam gua.
Tidak jauh dari gua, tiba-tiba terdengar suara,
“Terima kasih, Kancil. Kau telah menolongku 
dengan memberi makanan untukku. Sejujurnya 
aku sudah sangat lapar karena sudah lama 
sekali aku tidak makan,” ucap Buaya yang telah 
memangsa Beruang. 9
“Sama-sama, Buaya. Aku memberikannya pad
mu karena dulu kau pernah membantuku untuk 
menyeberangi sungai,” sahut Kancil sambil meng-
ingatkan jasa Buaya kepadanya.
Oya, sesungguhnya gua yang dimaksud Kancil 
tadi adalah mulut buaya yang sudah lama me-
nunggu mangsa. Sedangkan yang dimaksud Kancil 
dengan suara lebah itu adalah laron yang sedang 
bermain-main di mulut buaya
Kini Beruang telah mati dalam mulut buaya. 
Hutan pun kembali seperti sedia kala: tenteram, 
aman, dan damai. Tak ada lagi hewan yang hidup 
dalam ketakutan. 11
1Diceritakan kembali oleh Kadisman Desky dan M. Arsyadi 
Ridha (Penyunting), Cerita Rakyat Asahan, Majapahit Pub-
lishing, Yogyakarta, 2017.
P
ada suatu hari seekor Kancil bertemu dengan 
kerbau. Pada kesempatan itu pula si Kancil 
mengajak Kerbau untuk bermain petak umpet 
di dekat pematang sawah. Lalu Si Kancil berkata 
“Hai Kerbau apa kabarmu?” 
Jawab Si kerbau “Saya baik-baik saja, bagaimana
denganmu?”
“Saya juga baik-baik saja, bagaimana kalau
pertemuan ini kita rayakan dengan sebuah 
permainan petak umpet? Jawab Si kancil. 
“Ya... kalau saya setuju saja.” Jawab Si Kerbau.
“Kau akan pasti kalah karena badanmu lebih 
besar dari badanku,” hardik si Kancil. 12
“Ayo kita lihat saja nanti. Sekarang kamu yang 
lebih dulu untuk bersembunyi,” jawab si Kerbau.
Kancil mulai mencari tempat persembunyian, 
Kancil berlari-lari sampailah ia di bawah sebatang
pohon. Kancil mulai mengendap-endapkan diri-
nya. Ketika itu dedaunan berguguran sehingga
menutupi badan si Kancil. Si Kerbau pun mulai 
mencari si Kancil. 
“Hai Kancil di mana kau sambil berlari ke 
sana-kemari namun si Kancil tidak dapat dite-
mukannya. Si Kerbau menginjak-injak rerum-
putan dan melompat-lompat hampir saja 
Kancil terinjak oleh si Kerbau tapi ia tidak 
menemukannya. Si Kancil sudah tak sanggup 
lagi bersembunyi lebih lama. Akhirnya si Kancil 
keluar dari persembunyiannya dan melompat ke 
arah teriakan Kerbau. Lalu ia berkata, “Kerbau 
aku mengaku kalah aku tak sanggup lagi bertahan 
lebih lama. Kali ini aku mengaku kalah. Sekarang 
giliranmu untuk bersembunyi. Ayolah Kerbau 
bersembunyilah,” kata Si Kancil. 
Kerbau pun mulai bergegas meninggalkan 
Kancil untuk mencari tempat persembunyian. 
Kerbau mencari tempat yang aman, tiba-tiba
Kerbau menemukan gubuk yang terbakar. Kerbau 
segera menelentangkan dirinya dengan melurus-
kan keempat kakinya ke arah atas. Ketika itu pula 13
Kancil mulai mencari Kerbau berlari-lari berputar
mengelilingi rerumputan namun tak menemu-
kan Kerbau. Tiba-tiba Kancil melihat gubuk
yang terbakar itu. Kancil menghampirinya dan 
mendekatinya. Lalu meraba-raba tiang itu. Dalam
hati Kancil berkata, “Tiang ini kok ada bulunya. 
Persis seperti kaki Kerbau. Ah, barangkali tidak.” 
Kancil meninggalkan gubuk itu dan terus-mene-
rus mencari Kerbau namun tak ditemukan juga.
Kancil kembali ke gubuk itu lagi dan memperhati-
kan dengan secara seksama, tetap sama saja. 
Akhirnya Kancil merasa jenuh dan berteriak 
memanggil, “Kerbau... Kerbau... Kerbau. Keluarlah 14
kau. Aku mengaku kalah. Keluarlah. Aku tak 
mampu untuk mencarimu lagi.” 
Mendengar teriakan Kancil Kerbau pun keluar 
dari persembunyiannya dan menghampiri Kancil, 
“Ha… Ha… Ha… bagaimana Kancil siapa di antara 
kita yang menang?” 
“Ya... Kerbau, aku merasa malu karena aku 
kalah darimu,” jawab si Kancil. Mulai saat itu, si 
Kancil berjanji tidak akan sombong lagi kepada si 
Kerbau. 
Dari isi dongeng ini dapatlah kita 
ambil hikmahnya bahwa kita tidak 
boleh menghina, mengejek atau 
bersikap sombong pada sesama. 15
Di siang hari terik matahari terasa panas. 
Kancil yang baru bangun dari tidurnya 
merasa lapar. Lalu ia pergi mencari makan-
an ke hutan. Di tengah perjalanan, ia dihadang 
oleh seekor Macan. Lalu Macan berkata, “Hai... 
Kancil aku sudah tiga hari tidak makan. Relakah 
dirimu kujadikan makan siangku?”
Kancil menjawab, “Mau memakanku? Siapa 
takut! Tapi sebelum kamu memakanku, aku punya 
permintaan terakhir.”
“Baiklah Cil, akan kukabulkan,” kata Macan 
dengan menyingkat nama Kancil.
“Terima kasih Can. Sekarang kamu pejamkan 
matamu!” Pinta Kancil.
2Diceritakan kembali oleh Kadisman Desky dan M. Arsyadi 
Ridha (Penyunting), Cerita Rakyat Asahan, Majapahit Pub-
lishing, Yogyakarta, 2017. 16
“Lho kok begitu? Pakai pejam mata segala?” 
tanya Macan. 
Kancil menjawab “Iya Can karena aku ingin 
mencari makan dulu, agar badanku gemuk.”
“Baiklah,” kata Macan.
Dengan sekuat tenaga Kancil lari. Macan 
bertanya, “Sudah Cil....!”
“Beluuummm.......” jawab Kancil sambil lari 
secepatnya.
Macan bertanya lagi, “Sudah, Cil...!” 
Sayup sayup suara Kancil menjawab, “Bee-
luuuumm.......!”
Ketiga kali Macan memanggil. Kini Kancil tidak 
menjawab. Mungkin ia sudah jauh dari Macan.
Macan pun membuka matanya, “Eh... ke mana si 
Kancil? Jangan-jangan dia menipuku.” Gerutunya
dalam hati.
Macan mencari Kancil ke sana kemari tapi 
belum menemukannya. Macan pun geram dan 
terus mencari Kancil.
Sementara itu, Kancil berlari dan mencari tem-
pat bersembunyi yang aman. Kancil selalu melihat 
ke belakang. Ia takut Macan menemukannya. 
Kancil menjadi kurang waspada dengan apa yang 
ada di depannya, “Happp... aduuhh....!” Hampir 
ia menabrak ular yang sedang tidur. Langkahnya 
terhenti sambil mencari akal. Dalam sekejap pula 17 18
Macan menemukan Kancil, “Hai, Cil. Mau ke mana 
lagi kau. Mau menipuku lagi ya?”
“Ahhh.. tidak...” jawab Kancil.
“Aku sudah lapar Cil. Relakanlah dirimu untuk 
kumakan,” kata Macan. 
“Tunggu sebentar Can. Aku sedang ada tugas 
diperintahkan Baginda Nabi Sulaiman. Kata 
Baginda, siapa yang dapat memakai sabuk ini 
maka dia akan ditakuti seluruh binatang yang ada 
di dunia ini.”
“Ini kan Ular Cil...?” kata Macan. 
“Bodoh kau Can.... Ini kan Sabuk Ajaib,” balas 
Kancil
“Kalau begitu sini kucoba?” kata Macan.
“Jangannn..!” kata Kancil dengan siasatnya. 
“Kalau tak boleh, kau langsung kumakan!” 
gertak Macan. 
Kancil menjawab, “Baiklah, kalau begitu.”
Sang Macan memasang Ular yang dianggap 
sabuk. Tetapi tiba-tiba Ular bangun dan berkata,
“Macan kurang ajar. beraninya kau mengganggu 
istirahatku.” Dengan sekilat Ular membelit tubuh 
Macan dan menggigitnya. Macan tak mau kalah. Ia 
balas dengan menggigit perut Ular. Kancil tak mau 
tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah, ia 
pergi meninggalkan tempat itu. 19
Makna yang dapat kita ambil dari 
cerita dongeng ini adalah “Jangan 
suka melampiaskan kehendak kita 
kepada orang lain akhirnya kita 
sendiri yang terkena akibatnya.” 21
S
uatu hari Kancil bertemu dengan Siput di 
pinggir kali. Melihat Siput merangkak dengan 
lambatnya, sang Kancil dengan sombong dan 
angkuhnya berkata, “Hai Siput, beranikah kamu 
beradu lomba denganku?”
Ajakan itu terasa mengejek Siput. Siput berpikir 
sebentar, lalu menjawab, “Baiklah, aku terima 
ajakanmu dan jangan malu kalau nanti kamu 
sendiri yang kalah.”
“Tidak bisa. Masa jago lari sedunia mau 
dikalahkan olehmu Siput, binatang perangkak 
kelas wahid di dunia,” ejek Kancil.
3Diceritakan kembali oleh Kadisman Desky dan M. Arsyadi 
Ridha (Penyunting), Cerita Rakyat Asahan, Majapahit Pub-
lishing, Yogyakarta, 2017. 22
“Baiklah, ayo cepat kita tentukan harinya!” kata 
Kancil. 
“Bagaimana kalau hari Minggu besok, agar 
banyak yang menonton,” kata Siput.
“Oke aku setuju,” jawab Kancil.
Sambil menunggu hari yang telah ditentukan 
itu, Siput mengatur taktik. Segera dia kumpulkan 
bangsa Siput sebanyak-banyaknya. Dalam per-
temuan itu, Siput membakar semangat kawa
kawannya, mereka sangat girang dan ingin mem-
permalukan Kancil di hadapan umum. Dalam 
musyawarah itu, disepakatilah dengan suara 
bulat bahwa dalam lomba nanti di setiap Siput 
ditugasi berdiri di antara rerumputan di pinggir 
kali. Diaturlah tempat mereka masing masing. Bila 
Kancil memanggil, maka Siput yang di depannya 
itu yang menjawab. Begitu seterusnya.
Sampailah saat yang ditunggu-tunggu itu. Pe-
nonton pun sangat penuh menyaksikan perlom-
baan itu. Para penonton berdatangan dari semua
penjuru hutan.
Kancil mulai bersiap digaris start. Pemimpin 
lomba mengangkat bendera, tanda lomba akan 
segera dimulai. Kancil berlari sangat cepatnya. 
Semua tenaga dikeluarkannya. Tepuk tangan pe-
nonton pun menggema memberi semangat pada 
Kancil. Setelah lari sekian kilometer, berhentilah 24
Kancil. Dengan napas terengah-engah dia me-
manggil
“Siput!” seru Kancil.
Siput yang berada di depannya menjawab, 
“Ya, aku di sini.” Karena tahu Siput telah ada di 
depannya, Kancil pun kembali lari sangat cepat 
sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Kemu-
dian dia pun kembali memanggil.
“Siput!” teriak Kancil lagi.
Siput yang di depannya menjawab, “Ya, aku di 
sini.”
Berkali-kali selalu begitu. Sampai akhirnya
Kancil lunglai dan tak dapat berlari lagi. Menye-
rahlah sang Kancil dan mengakui kekalahannya. 
Penonton terbengong-bengong. Siput menyam-
but kemenangan itu dengan senyuman saja. Tidak
ada loncatan kegirangan seperti pada umumnya 
pemenang lomba. 25
4Diceritakan kembali oleh Desnatalyani Laoli
P
ada suatu hutan, terdapat seekor Kancil yang 
tinggal di hutan tersebut. Seperti hari biasa-
nya Kancil pergi mencari makan di dalam 
hutan. Dia menyeberangi sungai pada saat berang-
kat. Setelah Kancil merasa kenyang, dia pulang ke 
rumah. Namun, tiba-tiba turun hujan lebat ketika
kancil sudah dekat sungai. Risaulah hati Kancil 
karena tidak bisa melewati sungai yang banjir dan 
derasnya air sungai itu. Tidak jauh dari tepi sungai 
ada seekor buaya. Kancil mencari ide.
“Buaya, apakah kamu bisa membantuku menye-
berangi sungai ini?” Kata kancil kepada buaya. 
Buaya menjawab, “Jikalau nanti aku membantu-
mu menyeberangi sungai ini maka kamu meng-
anggap aku apa?” 26
“Kita akan menjadi sahabat sehati sejiwa. Aku 
akan membantumu kalau susah nanti di masa 
depan,” kata Kancil.
Buaya kemudian mempertimbangkan perkata-
an kancil. Buaya kembali bertanya, “Jikalau nanti 
aku membantumu menyeberangi sungai ini maka 
kamu menganggap aku apa?”
“Sahabat sehati sejiwa, Buaya,” Kancil mem-
berikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. 
Yakinlah Buaya dengan perkataan Kancil dan 
dia menyuruh Kancil untuk naik ke atas punggung-
nya. Buaya mulai berenang meninggalkan tepi 
sungai. Buaya kembali bertanya.
“Apa hubungan kita?”
“Sahabat sehati sejiwa,” kata Kancil.
Buaya terus berenang hingga mereka sampai di 
tengah-tengah sungai, Buaya bertanya lagi
“Apa hubungan kita?”
“Sahabat sehati sejiwa,” jawaban Kancil tidak 
berubah.
Buaya sangat senang mendengar jawaban 
Kancil, karena Kancil konsisten dengan jawaban-
nya bahwa mereka tetap sahabat sehati sejiwa. 
Mereka sudah mau sampai tepi sungai, hanya 
dengan sekali loncatan lagi mereka sudah sampai 
di tepi sungai. Buaya kembali bertanya “Apa 
hubungan kita?” 27
“Sahabat pantat,” kata Kancil sambil bergegas 
meloncat ke tepi sungai dan berlari pergi. 
Buaya sangat marah karena sudah ditipu oleh 
Kancil dan Buaya dendam kepada Kancil, “Baiklah 
kancil, aku akan mengingat bahwa kamu pernah 
membohongiku. Namun ingat ada berbagai 
macam kesulitan dan kesukaran di depanmu. Jika 
kita berumur panjang maka kita akan berjumpa 
lagi.” Dari cerita ini kita belajar supaya 
tidak seperti kancil yang melupakan 
perbuatan baik yang pernah 
dilakukan orang lain pada kita. 
Jangan pada saat susah dan terdesak 
kita mengaku sahabat namun di saat 
bebas dan bahagia kita melupakan 
orang lain yang pernah berbuat baik
.
Kembali
© Copyright : SMP Negeri 17 Bandung - 2024