LITERASI SMP Negeri 17 Bandung
TERAKTIF : MIRZA ARSYL SYAILENDRA PUTRA
TAHUN PELAJARAN 2025/2026
MIRZA ARSYL SYAILENDRA PUTRA
Kelas : VII-A
Senin, 20 Oktober 2025 | Dibaca : 74 kali
Judul Buku:
BEBAS TAKUT
Genre:
Fiksi
Penulis:
M.Christian
Penerbit:
Nexx Media
Tahun:
2005
Halaman:
2-6
GLS
Resume:
PENTINGNYA PERSONAL SAFETY AND SECURITY
.
Kita menyaksikannya setiap hari di televisi. Keluarga biasa saja dengan ayah, ibu, dan anak yang sedang tertidur lelap tiba-tiba mendengar suara-suara aneh. Begitu mereka bangun, ternyata barang-barang mereka sudah raib dibawa maling. Mereka teriak-teriak tapi barang dan maling itu tidak ditemukan hingga pagi ditelan malam.
Lagi, satu keluarga menjadi korban kejahatan. Masih untung jika hanya barang yang hilang. Yang lain selain kehilangan barang juga kehilangan nyawa.
Dapatkah ini menimpa Anda sekeluarga? Sayang seribu sayang, jawabannya adalah “Ya”!
Setiap hari kita menyaksikannya di televisi. Setiap hari pula mungkin kita mendengarnya dari kesaksian tetangga atau teman atau kerabat tentang adanya keluarga atau perorangan yang menjadi korban kejahatan. Tidak di rumah saja, tetapi juga di luar rumah, di tempat keramaian.
Kita pun lantas mengetahui akan adanya daerah-daerah yang tidak aman. No go area. Tempat-tempat yang sebaiknya dijauhi kalau bisa. Kita juga lantas tahu bahwa ada jam-jam tertentu ketika kejahatan umumnya lebih sering terjadi. Kita disarankan untuk menghindari melakukan kegiatan — keluar rumah, belanja, jalan-jalan, pulang kantor — pada “jam-jam menyeramkan” itu.
Apa perbedaan antara security dan safety?
Security ialah keamanan yang berkonotasi situasi atau keadaan yang membuat seseorang bebas dari marabahaya dan terlindungi dari kerugian.
Safety mengandung makna yang lebih sempit dari security karena hanya meliputi masalah keselamatan saja.
Jadi kalau security meliputi general well-being (keadaan menyeluruh) dari seseorang, maka safety lebih pada physical well-being (keadaan yang berhubungan dengan fisik) saja.
PENDAHULUAN
Itu baru kejahatan. Kita juga pernah mendengar tentang sebuah keluarga yang ditemukan tewas terbakar di rumahnya sendiri. Seluruh rumah, harta benda, dan nyawa ludes dalam kebakaran itu. Mereka sedang tidur ketika rumahnya dilalap si jago merah.
Demikianlah, tidak ada orang yang ingin celaka. Tetapi kejahatan, kecelakaan, dan kemalangan tetap saja terjadi. Setiap hari. Artinya, sekalipun doa sudah dipanjatkan, pencegahan sudah disiapkan, toh berita buruk itu tetap saja melanda, tanpa kenal orang, tanpa kenal waktu, tanpa kenal tempat.
Lantas kenapa bisa demikian? Ada beberapa jawaban terhadap pertanyaan ini.
Pertama, bisa jadi itu sudah nasib. Memang terdengar sinis, tetapi mau bagaimana lagi wong sudah kejadian kok! Begitu terus dari waktu ke waktu dan dari zaman ke zaman. Ada saja orang yang menderita kemalangan dan mengalami musibah. Istilah Inggris-nya: Being at the wrong place at the wrong time.
Kedua, kecerobohan. Beberapa orang memang memiliki sifat sembrono dan sering bertindak tanpa pemikiran terlebih dahulu. Sifatnya yang asal-asalan tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tetapi tidak jarang juga ikut mencelakakan orang lain. Tidak ada perhatian pada kemungkinan terjadinya musibah. Bahkan sekalipun kecelakaan atau kemalangan itu sudah jelas bakal terjadi, tetap saja dia melakukan hal yang berbahaya. Filosofi hidup mereka bisa jadi berbunyi: Bagaimana nanti sajalah!
Ketiga, kelalaian. Ini tidak terbatas pada lupa mengunci rumah atau memeriksa ban kendaraan sebelum berangkat. Kata dalam Bahasa Inggris yang menggambarkan dengan tepat kelalaian jenis ini, yaitu ignorance. Kata ini mengandung makna ketidaktahuan yang didasarkan pada kemasabodohan yang berujung pada musibah dan celaka diri dan orang lain. Akarnya adalah kemasabodohan yang disembuhkan dengan mental dan sikap positif. Dari situ baru kemudian diharapkan akan ada minat dan dorongan untuk mencari pengetahuan yang berguna untuk mengatasi masalah yang ada, termasuk mencegah terjadinya musibah.
Keempat, ketidaktahuan. Jika kecerobohan adalah karena tahu tetapi masa bodoh dan kelalaian adalah ketidaktahuan akibat masa bodoh, maka yang terakhir ini murni karena memang tidak tahu. Mungkin saja Anda ingin mengetahui cara mengamankan diri, tetapi tidak memperoleh sumber informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan. Atau bisa juga karena terjadinya penyesatan (disinformasi) ketika Anda diberi tahu bahwa “segalanya baik-baik saja” padahal tidak demikian kenyataannya.
Dari kenyataan yang sudah diuraikan di atas, jelas sudah bahwa pengetahuan merupakan kunci yang penting. Pengetahuan memungkinkan orang melakukan pencegahan seperlunya, sehingga kalaupun tidak bisa menghindarkan sama sekali terjadinya musibah dan kecelakaan, maka paling tidak pencegahan itu bisa meminimalkan risikonya.
Dengan kata lain, personal safety and security itu penting dan dapat diwujudkan. Untuk itu pengetahuan adalah kuncinya.
© Copyright : SMP Negeri 17 Bandung - 2024